Kepulangan Ibu Rosmala
Rosmala duduk di sudut kamar sempitnya, menatap jendela kecil yang mengarah ke langit Riyadh. Sepuluh tahun. Itulah waktu yang telah ia habiskan di negeri ini tanpa kepastian bisa pulang.
Dulu, ia hanya berniat bekerja dua tahun untuk membantu biaya sekolah anak-anaknya di Indonesia. Namun, majikannya terus menahannya. Setiap kali ia meminta izin pulang, jawabannya selalu sama:
"Tunggu nanti, masih banyak pekerjaan."
Paspor dan dokumennya disimpan oleh majikan, membuatnya tak bisa pergi ke mana-mana. Bertahun-tahun berlalu, anak-anaknya tumbuh tanpa dirinya, dan kini, Rosmala bahkan ragu apakah mereka masih mengingatnya.
Malam itu, ia menatap layar ponselnya yang retak. Nomor anaknya masih tersimpan di sana. Haruskah ia menelepon? Tapi apa yang harus ia katakan? Bahwa ia masih belum bisa pulang?
Air matanya mengalir perlahan. "Ya Allah, kapan aku bisa kembali?" bisiknya.
---
Pertemuan dengan Pak Ilham
Keesokan harinya, rumah majikan kedatangan seorang tamu. Seorang pria Indonesia berusia sekitar 40-an, berpakaian rapi dan berwibawa. Namanya Pak Ilham, seorang pengusaha yang telah lama tinggal di Arab Saudi.
Rosmala membawa teh ke ruang tamu, menundukkan kepala seperti biasa. Namun, ketika ia hendak pergi, Pak Ilham tiba-tiba bertanya, "Mbak sudah berapa lama kerja di sini?"
Rosmala terdiam sejenak. "Sepuluh tahun, Pak," jawabnya pelan.
Pak Ilham mengerutkan kening. "Sepuluh tahun? Kenapa belum pulang?"
Rosmala menunduk, takut untuk berbicara lebih jauh. Namun, matanya yang basah oleh air mata tak luput dari perhatian Pak Ilham.
Setelah pertemuan itu, Rosmala mendengar majikannya berbicara dengan nada cemas. Sepertinya Pak Ilham bukan orang biasa. Ia memiliki koneksi yang luas, dan yang lebih penting—ia peduli.
Dua hari kemudian, Rosmala dipanggil ke ruang tamu. Di sana, Pak Ilham sudah menunggu dengan senyum hangat.
"Saya sudah berbicara dengan majikanmu," katanya. "Kamu bisa pulang ke Indonesia."
Rosmala terbelalak. "B-benarkah, Pak?"
Pak Ilham mengangguk. "Paspor dan dokumenmu sudah diurus. Saya juga akan membelikan tiket pesawat untukmu."
Rosmala tak bisa menahan tangisnya. Ia langsung bersujud di hadapan Pak Ilham. "Terima kasih, Pak... Saya sudah lama ingin pulang..."
Pak Ilham membantu Rosmala berdiri. "Jangan menangis lagi. Kamu sudah cukup menderita. Sekarang, waktunya pulang."
---
Kepulangan yang Ditunggu
Saat pesawat mendarat di Jakarta, Rosmala hampir tak percaya. Ia benar-benar telah pulang.
Dengan langkah gemetar, ia keluar dari pintu kedatangan. Pandangannya menyapu kerumunan, mencari wajah-wajah yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat foto.
Dan di sana, berdiri tiga anaknya.
"Ibu..." suara lirih itu datang dari anak sulungnya.
Rosmala terisak, langkahnya tertahan. "Nak..."
Anak-anaknya langsung berlari dan memeluknya erat, seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Ibu lama sekali pulangnya..." bisik anak bungsunya, tangisnya pecah di dada Rosmala.
Rosmala membelai kepala mereka satu per satu, air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. "Maafkan Ibu, Nak... Ibu pulang sekarang..."
Di tengah pelukan hangat keluarga yang telah lama ia rindukan, Rosmala akhirnya merasa bebas. Rumahnya bukan lagi impian, tetapi kenyataan.
Komentar
Posting Komentar