Pasar Setan di Gunung Lawu

 




Malam itu, Bayu dan tiga temannya, Raka, Sita, dan Gani, mendaki Gunung Lawu. Mereka berencana mencapai puncak sebelum subuh. Angin dingin menusuk kulit, dan kabut tebal menyelimuti jalur pendakian.


“Ada yang pernah dengar cerita Pasar Setan di sini?” tanya Sita tiba-tiba, suaranya bergetar.


Raka tertawa kecil. “Mitos doang. Katanya kalau kamu dengar suara ramai di malam hari, jangan menoleh dan jangan menjawab kalau ada yang menawar barang.”


“Serem banget,” gumam Gani.


Mereka terus berjalan hingga menemukan tanah lapang yang cocok untuk beristirahat. Bayu menggelar matras, sedangkan yang lain menyiapkan makanan. Saat mereka mulai makan, angin berhembus semakin kencang, membawa aroma anyir yang membuat mereka mual.


“Bau apa ini?” tanya Bayu sambil menutup hidung.


Tak ada yang menjawab. Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara riuh rendah, seperti pasar yang penuh dengan orang. Suara tawa, obrolan, dan langkah kaki terdengar jelas dari dalam kabut.


Sita merapat ke Raka. “Itu suara apa?” bisiknya ketakutan.


Gani menelan ludah. “Jangan-jangan… Pasar Setan?”


Mereka saling berpandangan. Jantung Bayu berdegup kencang. Suara itu semakin mendekat, seperti ada banyak orang yang sedang berjualan dan menawar barang.


Kemudian, samar-samar, di antara kabut, terlihat bayangan-bayangan manusia berpakaian lusuh. Ada yang duduk di tanah, ada yang mondar-mandir membawa barang-barang aneh. Salah satu bayangan mendekat, seorang pria tua dengan mata kosong dan wajah pucat.


“Kalian mau beli sesuatu?” tanyanya dengan suara serak.


Bayu tercekat. Mereka ingat larangan untuk tidak menjawab. Namun, sebelum Bayu bisa menarik teman-temannya pergi, Sita—yang ketakutan—berbisik, “Tidak, Pak.”


Suara itu tiba-tiba menghilang. Namun, tiba-tiba, pria tua itu tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang hitam.


“Kalau tidak mau beli, jangan masuk ke pasar kami,” bisiknya dingin.


Secepat kilat, Bayu menarik tangan Sita dan berlari. Raka dan Gani mengikuti dari belakang. Mereka terus berlari, tapi jalur pendakian terasa semakin panjang. Kabut semakin pekat, dan suara tawa kembali terdengar, kali ini lebih nyaring, lebih menyeramkan.


Saat mereka melihat cahaya di depan, tiba-tiba Gani terjatuh. “Aduh! Tolong!”


Bayu menoleh dan melihat sesuatu menarik kaki Gani—sepasang tangan kurus dan hitam, mencengkram pergelangan kakinya. Mata merah menyala menatap dari dalam kabut.


Dengan panik, Raka dan Bayu menarik Gani sekuat tenaga. Tangan-tangan itu mencakar kaki Gani, meninggalkan luka berdarah. Dengan sekali hentakan, mereka berhasil menarik Gani, dan mereka semua berlari tanpa menoleh ke belakang.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, mereka akhirnya keluar dari kabut. Cahaya bulan kembali terlihat, dan suara pasar menghilang begitu saja.


Napas mereka tersengal. Sita menangis, sementara Gani gemetar ketakutan.


Bayu mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. “Kita hampir saja… hilang.”


Malam itu, mereka tidak tidur. Mereka berjaga hingga fajar menyingsing. Ketika matahari mulai terbit, mereka turun dengan langkah berat, tak ingin lagi menjejakkan kaki di Gunung Lawu.


Namun, sebelum benar-benar pergi, Bayu menoleh ke belakang sekali lagi. Di kejauhan, di balik kabut yang mulai menipis, sosok pria tua itu masih berdiri, tersenyum dengan tatapan kosong.


Komentar